Text
STUDI PENGARUH VARIASI UKURAN BIJIH TERHADAP KEEFEKTIFAN PROSES EKSTRAKSI EMAS DENGAN METODE PELINDIAN TUMPUKAN
Emas merupakan logam yang paling banyak digunakan di dunia karena pengaplikasian emas cukup luas. Emas merupakan logam transisi yang bersifat stabil dan merupakan logam yang paling lunak dan mudah ditempa. Proses ekstraksi emas melalui jalur hidrometalurgi terus dikembangkan. Dalam penelitian ini, dilakukan studi mineralogi bijih, perilaku pelindian dengan metode intermitten bottle roll dan column test, serta pengujian aglomerasi dan pengujian perkolasi untuk mengetahui karakteristik bijih dari satu deposit wilayah x dan keefektifan proses ekstraksi bijih dengan pelindian tumpukan. Percobaan diawali dengan proses preparasi bijih yang meliputi crushing, drying, sampling, dan sieving yang dilanjutkan dengan karakterisasi mineral dominan dalam bijih dengan fire assay, LECO, dan analisis komposisi kimia dengan X- Ray Diffraction (XRF) dan Inductively Coupled Plasma (ICP). Pengujian pelindian intermitten bottle roll dilakukan selama 240 jam dengan beberapa variabel percobaan yaitu fraksi ukuran bijih 26,5 mm, 12,5 mm, 6,3 mm, dan jenis sampel yang mengandung mineral silikat tertentu untuk mempelajari pengaruhnya terhadap persen ekstraksi emas dengan penggunaan konsentrasi sianida 500 ppm dan persen solid yang digunakan yaitu 40% solid. Pengujian perkolasi meliputi slump test dan flow rate test dilakukan untuk melihat karakteristik aglomerat sebelum dilakukan pelindian dengan column test dengan mengacu pada metode Kappes Percolation Test. Pelindian dengan column test dilakukan dalam flexy glass selama 60 hari dengan melakukan variasi terhadap pengaruh aglomerasi. Pengukuran konsentrasi emas terlarut dilakukan dengan analisis fire assay.
Hasil uji analisis komposisi kimia dengan metode fire assay yang digunakan untuk membaca mineral berharga emas dengan hasil 1,97 ppm kandungan mineral emas. Mineral emas berasosiasi dengan mineral silika berdasarkan hasil XRD kandungan head grade mineral silika yaitu 86%, adapun pengujian dengan menggunakan ICP untuk membaca mineral lain yang berasosiasi lebih dominan yaitu kandungan mineral As dengan kandungan 194 ppm. Pengujian analisa bijih menunjukkan bahwa bijih emas kadar rendah dengan kandungan mineral silika yang tinggi. Percobaan hasil pelindian intermitten bottle roll menunjukkan bahwa semakin halus fraksi ukuran bijih 6,3 mm maka perolehan persen ekstraksi semakin tinggi mecapai perolehan 60,1% perolehan persen ekstraksi pada proses intermitten bottle roll test. Kemudian dilakukan percobaan aglomerasi dan perkoasi untuk mengetahui hasil pengujian perkolasi memperlihatkan bahwa aglomerasi bijih diperlukan agar tidak menimbulkan permasalahan. Perolehan hasil persen ekstraksi pada proses intermitten bottle roll tes selanjutnya yaitu Proses aglomerasi bijih dengan menggunakan binder dan air untuk memberikan kekuatan pada sampel yang akan dilakukan uji perkolasi. Pengujian Perkolasi dilakukan untuk menentukan laju aliran, penentuan slump test dan hasil pengujian hasil perkolasi dan aglomerasi yang layak untuk dilaksanakan proses column leach test yaitu MAP 7 yang akan dilakukan proses column leach. Percobaan Column leach test menunjukkan perolehan persen ekstraksi 66,3 % yang menyatakan bahwa bijih emas dari satu deposit Sulawesi utara yang dikaji dapat diekstraksi dengan pelindian tumpukan. Penentuan pengaruh variasi ukuran bijih terhadap keefektifan proses ekstraksi emas dengan menggunakan metode pelindian tumpukan berhasil dilakukan pada fraksi ukuran bijih 6,3 mm karena menurut teori jika kondisi ukuran partikel bijih yang kecil dan halus dapat meningkatkan derajar liberasi serta berpengaruh pada luas permukaan kontak antara padatan dengan reagen pelarut sianida sehingga berpengaruh pada perolehan persen ekstraksi emas yang meningkat.
Tidak tersedia versi lain