Text
PENINGKATAN PEROLEHAN EMAS PADA BIJIH SULFIDA DI PT X DENGAN OPTIMASI VARIASI PARAMETER PELINDIAN
Pengolahan bijih emas sulfida memiliki tantangan tersendiri karena sifat refraktori bijih yang meningkatkan kesulitan dalam ekstraksi. Penelitian difokuskan pada parameter pelindian, termasuk persen solid, konsentrasi sianida, ukuran umpan, dan dissolved oxygen. Metode penelitian yang dipakai adalah analisis mineralogi yaiu x-ray diffraction. Pengujian head grade menggunakan fire assay untuk menganalisis emas dan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) untuk menganalisis perak dan tembaga. Setelah itu, dilakukan pengujian penggilingan untuk mendapatkan waktu dalam memenuhi ukuran pada sampel, atau grinding establishment. Dianalisis distribusi Au dengan grading analysis. Selanjutnya, dilakukan diagnostic leach test untuk melihat asosiasi pengotor. Percobaan pelindian dilakukan dengan tahap pertama menggunakan variasi ukuran partikel 75 dan 106 um, tahap kedua dengan variasi persen solid 35% dan 40%, tahap ketiga dengan variasi konsentrasi sianida 750 ppm dan 1000 ppm, dan tahap terakhir menggunakan variasi dissolved oxygen (DO) 10 ppm dan 20 ppm. Untuk pengujian pelindian tahap pertama hingga tahap ketiga memakai bottle roll test, sedangkan tahap terakhir memakai agitation leach test.
Sampel memiliki klasifikasi mineral penyusun, dengan komposisi utama terdiri dari silika sebesar 95,1%, diikuti oleh sulfida 4%, dan oksida 0,9%, dengan uji X-Ray Diffraction. sampel memiliki kadar emas (Au) sebesar 1,22 ppm, perak (Ag) sebesar 7,0 ppm, dan tembaga (Cu) sebanyak 234 ppm. Sampel menjalani Grinding establishment (GE). Hasil GE menunjukkan untuk mencapai ukuran 75 mikron diperlukan waktu 20 menit dan ukuran 106 mikron membutuhkan waktu 14 menit 9 detik. Pada tahap diagnostic leach test, hasil menunjukkan bahwa ekstraksi tertinggi terjadi pada free cyanidable sebesar 72,2%. Sebagian emas (Au) masih terasosiasi dengan mineral-mineral tertentu seperti pirit sebanyak 15,7%, hematit 8,2%, Fe dan Al 3,1%, dan silika sebanyak 0,8%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan ukuran partikel 75 mikron menghasilkan persentase ekstraksi yang lebih tinggi, dengan nilai ekstraksi emas (Au) sebesar 54,9%. Sementara penggunaan ukuran partikel 106 mikron memiliki ekstraksi lebih rendah, dengan emas (Au) 52,5%. Penggunaan persentase solid sebanyak 35% menghasilkan ekstraksi emas lebih tinggi dibandingkan dengan 40% solid, dengan nilai ekstraksi emas (Au) sebesar 62,1% dan emas (Au) pada 40% solid menghasilkan 59,4%. Nilai ekstraksi pada variasi konsentrasi sianida 1000 ppm lebih tinggi dengan emas (Au) 60,5% dibandingkan dengan hasil konsentrasi sianida 750 ppm emas (Au) 60,1%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konsentrasi oksigen 20 ppm menghasilkan persentase ekstraksi emas yang lebih tinggi untuk emas (Au) sebesar 56,0%, dibandingkan dengan ekstraksi emas (Au) 43,3%.
Tidak tersedia versi lain